Pakdhe Heru: KELUARGA
Showing posts with label KELUARGA. Show all posts
Showing posts with label KELUARGA. Show all posts

Friday, March 30, 2018

Mengembangkan Kreativitas Anak

March 30, 2018 0
Mengembangkan Kreativitas Anak


Siapa pun pasti ingin anaknya tumbuh kreatif. Itu hanya bisa terwujud bila orang tua menyiapkan lahan yang subur bagi berkembangnya kreativitas. Berikut beberapa langkah untuk mendorong tumbuhnya kreativitas anak.

*Biasakan anak-anak kita mencari dan menggali gagasan-gagasan serta cara-cara baru dalam memecahkan persoalan, dengan melakukan berbagai aktivitas

*Berikan fasilitas kepada anak yang dapat mendorong tumbuhnya sikap dan perilaku kreatif, seperti mainan atau alat-alat lainnya.

*Sediakan buku-buku yang menceritakan tokoh-tokoh kreatif sehingga dapat mengilhami anak kita untuk berperilaku kreatif.

*Ajaklah anak-anak Anda untuk melakukan eksplorasi, inovasi, dan penelitian kecil-kecilan.

*Bawalah anak-anak berkunjung ke tempat-tempat yang merangsang tumbuhnya kreativitas atau menemui tokoh-tokoh kreatif.

*Berikan dukungan dan penghargaan pada setiap karya kreatif sekecil apapun.

*Jangan menghalangi sikap skeptis anak apabila bertanya. Berilah jawaban yang logis dan benar  atau ajaklah  mereka mencari dan menemukan jawabannya sendiri.

*Ajukan beberapa pertanyaan  kreatif secara kontinu untuk dijawab anak-anak.

*Ciptakan suasana keterbukaan dan demokratis, hindari  kebiasaan  mengkritik, mencela, atau memaki anak.

*Jangan terlalu mengkhawatirkan anak-anak jika mereka  sedang melakukan aktivitas.

Thursday, March 22, 2018

Benarkah Game Berefek Positif ????

March 22, 2018 0
Benarkah Game Berefek Positif ????


Maraknya game asing tentu saja ada pengaruhnya. Maklum, selain sebagai alat hiburan, game juga berfungsi sebagai media yang membawa pesan dari pembuatnya. Gamer Indonesia tidak menyadarinya. Tapi beberapa di antara mereka lama kelamaan mengalami perubahan perilaku akibat pesan yanag diterima oleh bawah sadarnya. Ini biasanya terjadi pada gamer remaja yang suka main game orang dewasa.

Gamer tentu tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Orangtua tetap harus berperan dalm mengontrol pilihan game anak-anaknya. Toh, pengaruh game tidak melulu negative. Melalui game, seseorang dapat lebih terorganisasi dalam menyelesaikan masalah dan tantangan dalam game. Selain itu gamer sejati selalu mampu bersabar dalam menghadapi masalah.

Pandangan negative masyarakat terhadap game tentu saja masih ada akibat perilaku negative para gamer akibat kecanduan game. Sebut saja bolos sekolah untuk bermain game, nilai sekolah berantakan, tidak naik kelas, atau kekerasan akibat perselisihan ketika bermain game.

Lalu, apakah benar game yang menjadi dalangya ? Tentu saja ! tapi juga harus diingat bahwa tidak lagi sekadar konsumsi anak dan remaja. Di pasaran bertebaran game berkategori dewasa yang mudah diakses oleh semua umur. Bahkan rasio game untuk kalangan dewasa jauh lebih banyak. Inilah yang membuat anak dan remaja di Indonesia dengan mudah terpapar efek negatif sebuah game.

Untuk mengatasinya, awasi game yang dimainkan anak dan remaja. Temukan pembahasan mengenai game tersebut dan yang paling penting lihat rating umurnya. Informasi semacam itu banyak terdapat di situs-situs web di internet atau media-media yang mengulas  game.

Pengawasan aktif tersebut membuat peranan media game Indonesia menjadi sangat penting. Melalui pembahasan game yang diberikan oleh media tersebut, pengetahuan orangtua dan masyarakat menjadi lebih luas dan dapat memilih yang terbaik untuk anaknya. Selain itu, mau tak mau, emdia juga dituntut untuk memberikan informasi yang lebih lengkap seputar kelayakan sebuah game.
 
Tapi saran saya, tidak usah bermain game. Mengapa ? ALASANNNYA SIMPLE : BUANG-BUANG WAKTU.
 
 


Monday, March 19, 2018

Hindari Godaan Materi Demi Menjaga Relasi Ayah-Anak

March 19, 2018 0
Hindari Godaan Materi Demi Menjaga Relasi Ayah-Anak


Banyak sebenarnya  yang bisa dilakukan untuk membina komunikasi secara tidak langsung, misalnya bermain bersama, berekreasi bersama. Atau kalau anak masih kecil dengan membantu membuat (dalam arti mengajari) pekerjaan rumah.

Satu hal yang juga perlu diperhatikan, jangan sampai kelimpahan materi menggusur hubungan pribadi. Bekerja keras merupakan keharusan, tetapi orangtua perlu menghindari godaan materi. Orangtua  yang bijaksana tahu bahwa relasi ortu-anak bukanlah soal materi, tetapi kepuasan hidup. Itu bisa berarti  sebuah pilihan. Misalnya saja, mana yang lebih penting, punya rumah besar 4000 m2 dengan kolam renang, atau rumah yang membuat orang merasa krasan tinggal di dalamnya ?

Atau mana yang lebih utama, punya dapur mewah atau kepastian setiap anggota keluarga bisa duduk bersama saat makan malam dan berbagi pengalaman ?

Ingat, ayah yang komunikatif membuat anak lebih mudah menyesuaikan diri, lebih sehat secara seksual, dengan perkembangan intelektual lebih baik. “KETERLIBATAN AYAH DALAM KELUARGA AKAN MENINGKAT IQ ANAK SAMPAI 6-7 POIN”. Di samping itu , anak akan lebih memiliki rasa humor, lebih percaya diri, dan punya motivasi belajar.

Ada hubungan langsung antara pertemuan ayah-anak dan tinggi tingkat agresivitas anak, serta tingkah laku yang cepat dewasa  pada anak, terkhusus anak perempuan.



 

Monday, March 5, 2018

Stop Cuek. Lindungi Anak dari Seks Bebas

March 05, 2018 0
Stop Cuek. Lindungi Anak dari Seks Bebas
Remaja dan perilaku seks bebas ? Ah, kenapa lagi-lagi remaja  yang disalahkan ! padahal isu perilaku seks bebas di kalangan remaja sudah ada sejak bertahun-tahun lalu-paling tidak begitu kata sejumlah survey. Menyimak potret muram perilaku sebagian remaja, pengawasan ortu harus lebih diperketat. Mau kemana generasi bangsa ini. Jika besarnya haus akan seks. Lemah terhadap “wanita”, rahasia Negara bocor kemana-mana. Sebaliknya. Para wanitanya menjadi peselingkuh yang tentunya merusak moral anak-anak mereka. Bisa-bisa menjadi korban perceraian. Semoga saja tidak !!!

Para remaja rupanya tidak pernah kesulitan mendapat tempat untuk melakukan aktivitas seksual. Simak pengakuan salah seorang remaja kepada YKBH : “Kalau Cuma ciuman, French kiss, itu sih di sekolah juga masih berani. Tapi kalau petting atau hubungan seksual, sebagian besar dilakukkan di rumah.”

Rumah yang kosong karena orangtua pergi adalah surge bagi para remaja yang ingin mencoba hal-hal negative. Palagi kalau orangtua sudah acuh tak acuh terhadap apa yang diperbuat anak-anaknya Rumah sudah sepi tanpa pengawasan adalah kesempatan mereka melakukan hubungan seksual di rumah.

 
Hubungan seksual bisa terjadi di rumah karena rata-rata orangtua bekerja. Selain itu, ada juga orangtuanya tidak peduli. Ada teman yang main masuk ke rumah terus masuk ke kamar, tapi orangtua cuek saja.

Ini adalah sesuatu yang memprihatinkan sebab ada anak yang justru mengenal seks dari kecerobohan orangtuanya sendiri. Seperti jika orangtua lalai menutup atau mengunci pintu saat berhubungan badan. Bisa juga karena sekat dinding tidak memadai,  lalu anaknya bisa mendengar “uh-oh”-nya orang tua saat beraktivitas seksual. Hal-hal semacam ini tentu dapat berpengaruh pada anak.

Tidak melulu faktor kemiskinan menjadi penyebab. Misalnya, mencari uang dengan berbuat mesum. Malahan kebalikannya, ada siswa pulang-pergi ke sekolah  pakai mobil mewah. Setelah ditelusuri lebih jauh, rupa-rupanya ia melakukannya karena tlah kehilangan figure ayah. Orangtuanya bercerai, dan sang ayah kini tidak diketahui keberadaannya. 
 
Kalau sudah begini, siapa mau disalahkan ?????

Saturday, March 3, 2018

Biasa Ah Anak Bercita-cita, Sing Penting Sikap Orang Tua

March 03, 2018 0
Biasa Ah Anak Bercita-cita, Sing Penting Sikap Orang Tua
Sudah lumrah jika anak-anak memiliki sebuah cita-cita. Lumrah pula cita-citanya tak seiring dengan ayah bundanya. Menghadapi situsi seperti ini, ada orang tua yang toleran, dalam arti membebaskan  si anak  untuk menggapai cita-citanya. Ada pula orang tua yang suka memaksakan kehendak. Tak pelak benturan pun terjadi.


Untuk menghindari benturan itu, selayaknya orang tua memahami aspirasi anak. Ada  anak memilih suatu cita-cita karena ingin menampilkan  atau memperlihatkan eksistensinya atau ingin meraih gaji tinggi.

 Usaha yang dapat dilakukan orang tua dalam menyikapi cita-cita anak yaitu :
  1. Mengikutsertakan anak dalam sebuah lomba untuk mengetahui bakat dan sampai sejauh mana cita-cita anak dapat tercapai. Namun, sebelumnya diinformasikan dan ditawarkan kepada anak apakah ia berminat.
  2. Mengenal minat dan potensi atau bakat anak sehingga tidak akan terjadi salah pilih
  3. Orangtua memberi keleluasan dalam memilih apa yang anak sukai atau minati sehingga anak akan merasa dihargai eksistensi atau keberadaan dirinya
  4. Mendorong anak untuk mengikuti kursus untuk menambah wawasan dalam memilih dan mencapai cita-cita. Tentu disesuaikan dengan minat dan bakatnya
  5. Memberi dukungan agar anak  mempunyai rasa percaya diri dan bersemangat meraih cita-cita. Dukungan ini bisa berupa fisik (material) dan mental (bimbingan atau dorongan)
  6. Memberi gambaran tentang cita-cita dan memperkenalkan berbagai profesi agar anak bisa menyesuaikan antara karakteristik diri dengan kondisi profesi yang dicita-citakan.

Thursday, March 1, 2018

Tips untuk Ortu yang Memiliki Anak Hiperaktif

March 01, 2018 0
Tips untuk Ortu yang Memiliki Anak Hiperaktif
Gejala hiperaktivitas ternyata terapinya bervariasi, mulai dari penggunaan obat modern hingga terapi yang bersifat tradisional. Obat-obatan dapat menyebabkan kecanduan. Karenanya, terapi alternative pun dimanfaatkan.


ADHD
Gangguan pemusatan perhatian disertai gejala hiperaktivitas motorik yang dikenal sebagai Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) ini menjangkiti 3-5 % anak berusia 4-14 tahun. Gejalanya , anak tidak mampu memusatkan perhatian (konsentrasi) pada satu tugas tertentu. Selalu gelisah dan tidak bisa duduk dengan tenang.

Penyebabnya bisa karena adanya kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga tentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Anak hiperaktif bergerak ke sama ke mari tak terarah, tak sesuai situasi yang dihadapi. Mereka pun kerap gagal menyelesaikan tugas.

Diduga ada beberapa faktor yang menyebabkan gangguan ini seperti temparamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, epilepsy, alergi makanan, infeksi, kepala pernah terbentur, trauma kepala karena persalinan sulit.

Konsultasikan ke Ahlinya
Sayangnya, ortu sering salah menduga, anaknya umru dua tahun yang memang lagi senang-senangnya bergerak dan sulit duduk diam, divonisnya “hiperaktif”. Padahal cirri hiperaktif baru terdeteksi setelah anak setidaknya berusia empat tahun atau usia awal sekolah.

Jangan terburu-buru menvonis dan jangan pula didiamkan mungkin bisa kena, akhirya berlanjut hingga dewasa. Bisa-bisa nantinya ia menemukan masalah dalam pekerjaan, gara-gara cepat bosan, jenuh, pencemas, antisocial, tidak pernah menyelesaikan tugas. Jawabannya cukup sederhana :”BERKONSULTASI KE DOKTER PSIKOLOG ANAK”.


Makanan Tepat
Untuk mengurnagi gejala dapat dilakukan dengan diet makanan. Diet tanpa makanan pencetus alergi; yaitu makanan yang mengandung salisilat alami (jeruk, apel, apricot, beri, anggur) dan makanan yang mengandung  zat tambahan buatan, seperti pengawet, pemanis, pewarna, penyedap MSG. Jelas diet ini mengharuskan perubahan pola makan anak dan keluarga.  Jadi, perlu perhatian khusus dari Ibu dalam memasak dan menyajikan makanan.

Setelah menjalankan diet ketat beberapa lama, makanan yang dicurigai sebagai pencetus alergi dapat diberikan kembali satu per satu ke dalam menu. Jika muncul perubahan, tingkah laku pada anak, missal menjadi hiperaktif kembali, makanan itu jangan lagi diberikan.

Hiperaktivitas juga gara-gara kekurangan mineral tertentu. Gejalanya, anak punya keinginan berlebihan untuk makanan manis atau asin. Zat  mineral yang diduga berhubungan dengan ADHD, antara lain dimetilglisin, asam lemak, zat besi, magnesium, seng, enzim. Makanya, pemberian suplemen vitamin dan mineral akan sangat membantu kemajuan si anak.

Anak hiperaktif menyimpan energi berlebihan. Untuk lebih menyalurkan energinya, ajaklah dia berolahraga atau bertamasya kea lam terbuka, semisal kebun binatang, taman bermain. Di sana ia bisa bebas bermain, memanjat dan berlari sesuka hati. Intinya lakukan aktivitas yang menyenangkan.

Jika liburan, libatkan anak dalam banyak kegiatan sepulang sekolah tanpa melupakan bakat dan kemampuan fisiknya.  Jika bermain di rumah, ajaklah ia melakukan permainan yang membutuhkan konsentrasi, seperti menyusun puzzle, berkebun atau memelihara binatang.

Terakhir…Coba Tips ini
Lakukan tips ini bila memang setelah dikonsultasikan ke psikolog hasilnya positif :

1.      Ajarkan disiplin pada anak hiperaktif, agar ia  dapat mengatur dirinya dengan baik

2.      Jangan memghukumnya. Perilaku hiperaktif bukan kesalahan

3.      Jangan sekali-kali melabeli anak hiperaktif sebagai  anak nakal, malas atau bodoh. Karena akhirnya ia akan bersikap seperti yang dilabelkan padanya

4.      Keefektifan terapi berbeda-beda bagi tiap anak, ortu harus menentukan terapi yang terbaik bagi anak

5.      Yang terpenting, berikan kasih sayang ( bukan memanjakan) pada anak ADHD melebihi saudara lainnya. Sebab, seberapa bnayak kasih saying yang ditumpahkan kepada anak ADHD tidak akan perbah bisa penuh


Stop Tontonan Kekerasan, Lindungi Anakmu DOnk

March 01, 2018 0
Stop Tontonan Kekerasan, Lindungi Anakmu DOnk
Ada dua umpan yang dilempar oleh produser agar film produksinya laku ditonton. Seksualitas dan kekerasan. Orang tua cenderung mencekal  yang pertama, tapi jarang atau tidak sama sekali untuk yang kedua. Padahal “bahayanya” tak kalah serius



TV penuh Kekerasan
Yang menjadi masalah, mengapa kekerasan menjadi menu pilihan yang ditayangkan di TV ? Tak bisa dpungkiri, persaingan penyelenggara siaran di layar kaca dalam memperebutkan kue iklan yang makin terbatas sangatlah ketat. Demikian pula  dengan pengiklanan  suatu mata acara. Dengan durasi terbatas, kail yang dilemparkan ke pemirsa harus bisa langsung menohok ke benak.

Kalau rajin memperhatikan iklan cuplikan tayangan film, tentu unsure seks dan kekerasan itu besar porsinya. Apalagi dalam film laga yang menjual kekerasan. Ambil contoh sinetron seri 7 Manusia Harimau, GGS, Anak Jalanan, Anak Langit, dsb. Kekerasan digunakan dalam berbagai cara dalam promosi sebagai pengait untuk menarik pemirsa agar menonton program itu.

Jenis sinetron/ film laga kepahlawanan selalu menarik perhatian dan  disenangi anak-anak, termasuk balita, sehingga mereka tahan berjam-jam duduk di depan layar kaca. Diduga, selain menghibur, yang terutama bikin kecanduan ialah unsure thrill, suasana tegang saat menunggu adegan apa yang bakal terjadi kemudian. Tanpa itu, sinetron atau film serasa datar dan membosankan.

Jadi Agresif  ?
Orang tua dituntut untuk cerewet, waspadai tayangan kekerasandi TV. Tapi, benarkah agresivitas anak-anak terjadi hanya karena tayangan kekerasan di layar kaca ? Sebenarnya, setiap manusia itu mempunyai sifat agresif sejak lahir. Sifat ini berguna dalam bertahan hidup.

Tanpa agresivitas, anak tidak akan bereaksi jika mendapat rangsangan  yang mengancamnya. Tetapi, tanpa pengarahan yang baik, sifat itu bisa merusak.

Ada yang melihat, proses dari sekadar tontonan sampai menjadi perilaku perlu waktu yang cukup panjang. Namun, yang merepotkan bila tontonan kekerasan jadi suguhan sehari-hari, sehingga menjadi hal biasa, apalagi lingkungan sekitar juga mendukung.

Bayangkan, bila dalam sehari disuguhkan  127 adegan kekerasan, berapa yang akan diterima dalam seminggu, sebulan, atau setahun ?  Mungkinkah akhirnya si anak merasa, memang “tidak apa-apa” memukul dan menganiaya orang lain. Cukuplah kejadian gegara anak  nonton 7 Manusia Harimau menjadi pelajaran berharga.

Jika menurut Anda (sebagai ortu) melihat tayanga TV tidak baik untuk tumbuh kembang anak, cukup laporkan ke KPI. Dan berikan pendampingan terhadap anak bila memang tidak ada respons.

Batasi Dua Jam Sudah Cukup
Kapan dan berapa lama anak boleh menonton TV, semua itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu  mereka bersama. Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau justru sore hari.

Satu hal lagi, batasi juga penggunaan gadget. Ingat “GADGET BIKIN KETAGIHAN, OBATNYA SUSAH BUTUH KEGIGIHAN & KESABARAN”.

Wednesday, February 28, 2018

Ini Lho Bedanya Olahraga untuk Anak-Anak...Jelas Beda dengan Orang Dewasa

February 28, 2018 0
Ini Lho Bedanya Olahraga untuk  Anak-Anak...Jelas Beda dengan Orang Dewasa
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga harus rutin berolahraga sejak dini. Meski begitu, ada tata caranya tersendiri. Salah pilih cara dan jenis olahraganya, sisi psikologis anak bisa terganggu.

Menurut para ahli, anak-anak harus memiliki banyak kesempatan untuk bergerk selama 60 menit setiap hari. Bisa berjalan cepat, berenang, sepakbola, atau basket dengan pengawasan orang tua atau orang yang lebih dewasa. Olahraga bagi anak-anak selain menambah energy, menurukan resiko penyakit jantung, diabetes, juga menyehatkan tulang dan otot.

Sebelum memilih olahraga yang cocok untuk anak, ada baiknya pertimbangkan motorik, usia biologis, keamanan, preferensi, dan ketersediaan waktu.

Sesuaikan olahraga sesuai dengan anak seperti berikut :

Usia 2-5 tahun

/ Untuk meningkatkan keterampilan motorik dasar

/ Gerak dasar dan keseimbangan masih terbatas

/ Penglihatan jarak jauh belum sempurna, belum sanggup mengikut objek yang bergerak cepat

/ Olahraga yag fun, non-organized, non-kompetitif, non kontak. Misalnya berlari, emlompat, menangkap-melempar bola, bersepeda


Usia 6-9 tahun
/  Gerakan dasar dan keseimbangan sudah berkembang

/ Penglihatan jauh sudah berkembang

/ Anak sudah memahami konsep kerja sama (tahu kawan, tahu lawan)

/ Boleh olahraga kompetisi tetapi penekanan pada aspek partisipasi, bukan kemenangan misalnya renang, atletik, senam, sepakbola, tenis


Usia 10 tahun atau lebih
/ Gerakan dasar, keseimbangan, penglihatan jauh sudah sama dengan dewasa

/ Boleh mengikuti olahraga organized, kompetisi, kontak seperti sepakbola, basket, martial art.

 --------------------

Untuk anak-anak, aktivitas menyehatkan tidaka hanya dengan olahraga. Berjalan, bersepeda ke sekolah, naik turun tangga, mengajarkan menyapu adalah bentuk lain dari kegiatan yang bisa dilakukan.

Tugas orangtua memberikan pendampingan dan menjelaskan hal-hal positif dari aktivitas dan olahraga yang dilakukan.

Monday, February 26, 2018

Biarkan dan Dampingi Anak Saat Membantu Bekerja

February 26, 2018 0
Biarkan dan Dampingi Anak Saat Membantu Bekerja
 
Senang rasanya melihat anak mau membantu pekerjaan kita.  Keinginan yang timbul dari seorang anak-khususnya anak SD untuk membantu ortu mereka merupakan hal yang positif, tetapi perhatikan pula bahaya yang dapat ditimbulkan. Setidaknya ortu mendampingi dan mengarahkan saat bekerja. Awasi dan jaga anak dari hal-hal berikut :

1.      Terluka
Beri tahu pada mereka akan adanya kemungkinan terluka dalam bekerja. Karena itu, ingatkan untuk selalu berhati-hati. Jelaskan pula bahwa pekerjaan  yang menggunakan benda-benda tajam bukanlah pekerjaan mereka.

2.      Terbakar
Dampingilah mereka kalau mereka membantu Anda untuk melakukan pekerjaan menggunakan pemantik api atau berhubungan dengan api seperti kompor gas. Jika ingin menyentuh barang-barang bertenaga listrik, ingatkan mereka  untuk menggunakan alas kaki dari karet.

3.      Keracunan
Karena dapat meracuni, ingatkan mereka untuk mencuci tangan setelah selesai menggunakan obat nyamuk, kapur anti semut, cairan pembersih lantai. Mintalah mereka agar tidak bermain dengan bahan berbahaya itu.

4.      Jatuh
Saat mengepel, ingatkan anak untuk menggunakan air secukupnya dan tidak bermain-main dengan banyak bergerak. Anjurkan langsung menyimpan peralatan usai  bekerja agar kaki tidak tersandung.

Dengan mendampingi dan menjelaskan kepada anak-anak tentang suatu bahay amengerjakan pekerjaan tertentu, maka anak-anak kita dapat memilih pekerjaan yang betul-betul aman bagi mereka.

Yang terpenting ingatkan untuk berhati-hati. Mungkin harapan ke depannya agar anak rajin bekerja dan mandiri bisa terwujud dan sesuai keinginan ortu masing-masing. Aaamiiin

Monday, February 19, 2018

Harus Siap Menerima Koreksi Anak

February 19, 2018 0
Harus Siap Menerima Koreksi Anak
Iklim dialogis dan keterbukaan perlu diciptakan di lingkungan keluarga. Ini diharapkan menjadi upaya mempersiapkan anak-anak untuk bisa berkomunikasi, sehingga mereka terlatih untuk bisa menerima dan mendengarkan orang lain. Kondisi ini harus didukung   dengan kesiapan orang tua menerima koreksi dari anak. Misalnya, jika anak mulai menunjukkan  sikap protes, bukan berarti anak kurang ajar atau menentang orang tua, melainkan merupakan ekspresi keinginannya untuk diperhatikan dan dihargai.

Sebab itu, orang tua demokratis perlu mendengarkan keluhan anak dan menghargai pendapatnya. Namun, tindakan yang tidak dianjurkan adalah melakukan penekanan terhadap anak untuk mengungkapkan emosi dan perasaannya. Sebab, sikap orang tua dalam menghadapi sesuatu akan berpengaruh terhadap sikap anak.
 


Keberanian bertanya dan mengemukakan pendapat sebagai bagian dari kehidupan demokrasi, harus dimulai dan keluarga. Bila seorang anak dibesarkan dalam keluarga yang otoriter, kemungkinan ia tidak cukup berani bertanya dan berpendapat. Meski demikian, sekolah juga memiliki peluang untuk mendorong anak berani mengemukakan pendapat. Itu sangat tergantung pada kurikulum dan cara mengajarnya.

Namun, ada kecenderungan spontanitas untuk berkreasi belum berkembang karena guru dibebani harus begini dan begitu.  Padahal, otak kiri dan kanan harus berkembang secara seimbang. Anak seharusnya tidak hanya disuruh belajar dan menghafal tetapi dirangsang kreativitasnya agar mampu menemukan sesuatu.

Sistem pengajaran di Indonesia cenderung mengarahkan anak pada penguasaan teori dengan cara menghafal. Target pengajaran masih bertumpu pada penyampaian materi, sementara tentang bagaimana  cara belajar dan memecahkan persoalan, justru terabaikan. Karena tidak member peluang lebar bagi terciptanya komunikasi dialogis, keterbukaan, penalaran kritis dan berekspresi, maka system pengajaran tersebut dapat menghambat tumbuhnya jiwa demokratis anak didik.

Sunday, February 11, 2018

Siap-Siap Hadapi Lebaran 2018

February 11, 2018 0
Siap-Siap Hadapi Lebaran 2018
Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran adalah hari bahagia yang dinantikan. Namun, kerepotan yang sama akibat mudiknya pembantu sering pula berulang. Bila memiliki dua pembantu, Anda dapat menawarkan  hari kepulangan berbeda.  Namun, bila hanya satu pembantu. Cobalah menawarkan untuk pulang dua minggu sebelum Lebaran, dan kembali sebelum lebaran tiba. Anda bisa mengajaknya ikut jalan-jalan ke luar kota. Bukankah ia akan mendapat pengalaman baru ? Tawaran lain berupa tips, apabila  ia mau menunda mudik saat Lebaran.


Apabila semua tawaran itu ditolaknya, ada persiapan lain yang perlu dilakukan :

#Membagi tugas rumah tangga untuk seluruh anggota keluarga, tentu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

#Jauh hari sebelumnya, ajari anak untuk mandiri dalam memenuhi seluruh kebutuhan sendiri.

#Berlatihlah merawat balita yang selama ini diasuh oleh pembantu rumah tangga. Tanpa persiapan matang, ketidakhadiran sang pengasuh dapat menimbulkan kerepotan.

#Siapkan mainan yang bervariasi dan memadai agar anak tidak merasa kurang perhatian, sementara Anda dan pasangan tengah sibuk menjamu tamu.

#Siapkan anggaran lebih, mungkin anda perlu membeli makanan setengah jadi, demi kepraktisan.

#Berpikir realistis. Tenaga dan waktu Anda terbatas, maka pekerjaan yang terlalu makan waktu sebaiknya diabaikan. Misalnya, cukup sekali sehari mengepel lantai.

#Bila curi Anda habis, sementara pembantu belum kembali, Anda dapat meminta tolong keluarga besar Anda. Siapa tahu ada yang mau dititipi. Pilihan lain, menggunakan jasa penitipan Anak. Pastikan tempatnya aman dan nyaman bagi anak.

#Siapkan kerja sama keluarga besar dan tentukan satu rumah di mana seluruh anggota  keluarga besar dapat berkumpul. Hal itu akan sangat memudahkan kunjungan



Selamat menantikan Lebaran 2018 dan Selamat Lebaran 2018 bila saatnya tiba !!!

Sunday, January 28, 2018

Berbahasa dengan Santun Sejak Dini

January 28, 2018 0
Berbahasa dengan Santun Sejak Dini
Pernahkah Anda tiba-tiba dikejutkan oleh perkataan jorok dan tidak sopan yang keluar dari sang buah hati. Anda sudah beberapa kali mencoba untuk menegur tapi tidak berhasil. Akhirnya, Anda menyerah meskipun dalam hati masih ingin menyelamatkan buah hati dari perilaku yang tidak baik.


Lakukan cara berikut yang patut dicoba agar anak tidak mengucapkan kata jorok dan tidak sopan lagi.

1.   Memberi contoh dan keteladanan. Hal  utama yang harus diberikan orangtua kepada anaknya adalah keteladanan orangtua dan konsistensi sistem yang berksinambungan dalam keluarga untuk selalu berperilaku santun dalam berbahasa oleh setiap anggota keluarga.

2.     Memberi pengertian.  Anak harus diberi pengertian tentang pentingnya santun berbahasa. Salah satu cara dengan mengajaknya bermain boneka bersama. Buatlah ilustrasi cerita menggunakan tokoh-tokoh boneka itu. Ambil satu tokoh yang berperan sebagai karakter santun dalam berbahasa. Tokoh ini disukai teman, keluarga dan dihormati masyarakat. Ia begitu disegani oleh kelompoknya sehingga diangkat menjadi pemimpin mereka.

3.     Jika Anda mengalami permasalahan, konsultasikan persoalan dengan guru di sekolah atau psikolog anak. Diharapkan dengan adanya guru dapat membantu melakukan pembinaan baik secara individual maupun klasikal untuk membentuk system pergaulan anak secara sehat dan berlandaskan norma-norma yang ada.

4.      Tanyakan pada anak dari siapa ia meniru perkataan seperti itu. Bila dari sesama teman sebaya dapat didiskusikan secara baik dengan orang tua teman tersebut untuk dicari solusi bersama-sama. Syukur jika orang tua anak tersebut sangat care dengan anaknya. Namun, apabila memang tidak ada kepedulian alias acuh tak acuh, ditambah lagi lingkungan keluarga dan masyarakatnya yang buruk, maka langkah terakhir jauhkan anak Anda bergaul dengan anak tersebut.

Coba Olahraga ! Pilihan Tepat untuk Meredam Emosi Buah Hati

January 28, 2018 0
Coba Olahraga ! Pilihan Tepat untuk Meredam Emosi Buah Hati
Apabila Anda seorang Ibu yang memiliki buah hati dengan berat badan berlebih dan mudah marah alias temperamental, mulailah  saat ini mengajaknya berolahraga. Menurut suatu penelitian anak dengan rentang usia 7-11  tahun menemukan bahwa olahraga disamping menurutkan bibit badan, juga bermanfaat meredam emosi mereka.

Dalam penelitian itu mereka dilibatkan dalam  program latihan aerobik usia jam sekolah selama 10-15 minggu. Hasilnya menurut Catherine Davis dari Georgia School of Medicine (sebagai penelitinya) adalah Olahraga memiliki dapat signifikan pada pengendalian ekspresi kemarahan anak-anak. Penemuan ini sekaligus mengindikasikan bahwa olahraga aerobic merupakan strategi efektif untuk membantu anak-anak yang kegemukan mengurangi ekspresi marah dan perilaku agresif mereka.



Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa olahraga membantu menurunkan stress (tekanan dan depresi) dan kegelisahan pada anak. Selanjutnya, Chaterine menambahkan, kebanyakan orang percaya jika olahraga juga membantu orang dewasa mengelola kemarahan.

Menurut Chaterine, jika para guru dapat menerima olahraga sebagai salah satu cara yang dapat membantu anak-anak mengendalikan perilaku mereka dan bisa dijalankan terus, mereka bakal menjadi pendukung utama dalam menggiatkan aktivitas fisik untuk anak-anak.

Hasil penelitian Chaterine ini dipublikasikan pada bulan November 2008 oleh Pediatric Ecercise Science.